Jumat, 04 Januari 2013

biografi sang bapak sejarah



Eropa merupakan kiblat bagi Negara-negara di seluruh dunia. Begitu pula dengan historiografi di Eropa yang dianggap sebagai pionir dalam diberlakukannya historiografi di setiap Negara. Kebudyaan Romawi dan Yunani adalah dua kebudayaan yang merupakan hasil pada zaman Eropa Kuno. Dua kebudyaan ini dianggap sebagai du kebudayaan yang mempunyai peradaban tinggi yang ada pada zaman itu. Herodotus merupakan tokoh penting dalam historiografi Eropa kuno, karena berkat jasanya lah Eropa mengenal tulisan. Maka dimulailah historiografi di Eropa
Mitologi merupakan awal Historiografi Eropa Kuno. Penulisan sejarah mengalami perkembangan mulai dari bentuk lisan sampai berbentuk tulisan manakala manusia telah mengenal tulisan. Pada mulanya penulisan sangat dipengaruhi oleh bentuk lisan dan biasanya dalam bentuk syair atau puisi. Namun, diantara keduanya terdapat perbedaan yaitu tradisi lisan lebih bersifat mitos, emosi, epos dan fiksi. Pada tradisi tulisan mulai berkembang kea rah lebih historis, rational dan factual.
Historiografi Eropa Kuno dipelopori oleh Herodotus dalam bentuk logographoi yang kemudian dikenal dalam bentuk prosa. Perubahan bentuk dari puisi ke prosa ini membuat Herodotus menjadi Bapak Sejarah. Bentuk penulisan logographoi dapat mengubah tradisi yang ada yaitu dari mistis menjadi bentuk rasional.([1])

Ø  Tokoh-tokoh Historiografi Eropa Kuno :
  1. Herodotus sebagai Bapak Sejarah.
  2. Thucydides (456-396 SM) sebagai bapak Sejarah Kritis.
  3. Polybus (198-117 SM)
  4. Titus Livyus (59SM-17 M).
Dilahirkan pada tahun 59 SM di Padua Romawi. Pada mulanya ia bekerja pada Dinas Militer, tetapi kemudian keluar dan menjadi pengarang. Ia merupakan orang pertama yang menggunakan Imginasi dalam karya-karyanya dan tekanannya pada sejarah yang komprehensif.

Ø  Hasil Karya Historiografi Eropa Kuno
a.       Perang Persia. Merupakan karya pertama kali Herodotus yang menggunakan unsur Kajian Ilmiah dalam dunia Ilmu Sejarah. Memuat berisi kebudayaan Yunani.
b.      Perang Peloponesia (431-404 SM). Merupakan karya Thucydides yang memuat kisah sejarah pada lingkup bidang politik. Karya ini memberikan sumbangan terhadap historiografi dalam bidang kritik sumber dan metode sejarah. Maka lahirlah Sejarah Kritis.
c.       History of Rome. Isinya menggambarkan kebesaran Romawi, termasuk di dalamnya kehidupan rakyat kecil, kekejaman para mandor terhadap pekerja. Dasar-dasar hukum Romawi, proses perkembangan pemerintahan, perkembangan teori politik dan moral serta hubungan antar tradisi.

Dari karya-karya tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa kebudayaan zaman Yunani dan Romawi adalah merupakan kebudayaan klasik yang menjadi akar kebudayaan Eropa. Antara kebudayaan Yunani dan Romawi mempunyai hubungan yang erat. Perbedaan antara Yunani dan Romawi adalah sebagai berikut.

Kebudayaan Yunani
Kebudayaan Romawi
Negara kota (City State)
Dalam perkembangannya lebih mengutamakan unsure fisik untuk mendukung imperium yang besar.
Masyarakatnya pengusaha dan pedagang sehingga hidupnya makmur
Tata Negara yang baik, teraur, militer kuat dan hukum yang berwibawa
Adanya kebudayaan sehingga melahirkan kreatifitas seni dan kebebasan berfikir dan kebudayaan berkembang dengan bebas.
System politik yang kuat dan efisien
Akibatnya kebudayaan Rokhaniah lebih tinggi/menonjol
Akibatnya kebudayaan yang lebih unggul di bidang fisik

Namun demikian banyak pemuda-pemuda Romawi yang dididik oleh orang-orang Yunani dalam rangka mempersiapkan generasi mudanya. Oleh karena itu, di bidang historiografi di Negara Yunani lebih bebas menentukan tema-temanya (Herodotus dan Thucydides), sedangkan historiografi Romawi banyak dipengaruhi oleh kebudayaan dan system pemerintahan yang berlaku. Umumnya bersifat Heroik/patriotik dengan menunjukan kegemilangan Imperium Romawi.

BIOGRAFI HERODOTUS

Herodotus bapak sejarah, digambarkan oleh Cicero sebagai ‘bapak sejarah’. Meskipun dianggap sebagai ‘bapak sejarah’, tulisan Herodotus berisi lebih sebagai deskripsi tentang peristiwa baik yang dilihatnya sendiri atau mengumpulkan dari sumber yang dia anggap terpercaya. Herodotus bepergian ke berbagai tempat untuk mengumpulkan informasi tangan pertama tentang berbagai peristiwa. Dia juga mengatakan,“Merupakan tugas saya untuk mengulangi apa yang dikatakan, tapi jangan pernah langsung percaya dengan apa yang saya tulis tanpa syarat, pernyataan ini berlaku untuk semua karya saya.”
Dia tampaknya telah lebih awal membentuk resolusi menulis sebuah karya sejarah dalam skala panjang, dan dengan pandangan tersebut ia bertekad untuk mengetahui dengan mata kepalanya tentang masa lalu. Hal itu dibuktikannya dengan mendatangi beberapa Negara terpencil. Kemudian ia mengabdikan perhatian khusus ke Mesir, yang pada waktu itu sedikit diketahui, bahwa ia selanjutnya mengunjungi Palestina dan Phoenicia, dan akhirnya menembus sejauh timur seperti Babel dan Susa. Kita juga diberitahu bahwa ia berlayar melalui Hellespont ke Laut Hitam, dan mengunjungi semua negara terletak di pantainya. Setelah kembali, ia tampaknya telah tinggal selama beberapa waktu di Athena. Dia kemudian mundur ke Thurii, di Italia, ke mana banyak dari sesama warga telah berlangsung. Di sini, kemungkinan besar, ia menulis karya-nya yang abadi, dalam penurunan hidupnya. Menurut Suidas, ia meninggal dan dimakamkan di Thurii sekitar 418 SM
Herodotus lahir sekitar tahun 484 SM di Halicarnassus. Sebagai sebuah kota utama yang terletak dekat Asia Kecil, Halicarnassus kemudian diperintah oleh Ratu Artemisia. Ratu Artemisia merupakan pengikut Raja Persia Xerxes dan telah berperang bersama dalam pertempuran laut Salemis. Tidak banyak yang diketahui tentang masa kecilnya. Riwayat tentang Herodotus baru diketahui saat dia mulai beranjak dewasa. Sepeninggal Ratu Artemisia, cucunya yang bernama Lygdamis ganti memerintah. Dia merupakan seorang tiran sehingga tidak disukai oleh rakyatnya.
Herodotus muda dan pamannya Panyasis, yang adalah seorang penyair, terlibat dalam plot gagal untuk menggulingkan Lygdamis. Kegagalan ini berujung pada penangkapan dan eksekusi Panyasis. Herodotus berhasil melarikan diri dan mencari perlindungan di kota tetangga Samos. Di Samos, Herodotus tinggal selama delapan tahun sambil mempelajar dialek Ionic yang digunakannya saat menulis karya-karyanya di masa depan. Setelah Lygdamis digulingkan, Herodotus kembali ke Halicarnassus namun ternyata tetap tidak diinginkan oleh penguasa baru sehingga memaksanya sekali lagi meninggalkan kota kelahirannya tersebut.
Herodotus kini menuju ke Athena, kota yang sedang mencapai puncak budaya, dan dengan cepat segera merasa nyaman. Di Athena, Herodotus bercerita tentang pengalamannya dengan Lygdamis di Halicarnassus kepada sejawat cendekiawan dan akhirnya diberikan tunjangan untuk menopang hidup sehari-hari. Tempat-tempat yang pernah dikunjungi Herodotus diantaranya adalah Mesir, Babilonia, Susa, Ecbatana, Krimea, Georgia, Tirus, Suriah, Thrace, Kirene, Libya, dan seluruh Yunani.
Buku yang ditulis Herodotus berisi tentang kekhasan geografis tempat yang dikunjunginya, hewan dan tumbuhan dari daerah tersebut, karakteristik khusus dari orang-orang yang tinggal di dalamnya, politik, sosial, dan budaya, serta kisah-kisah dan legenda yang hidup di dalamnya. Sejumlah pandangan subyektif dan unsur moral dalam tulisan-tulisan Herodotus jelas tidak dapat dihindari mengingat dia menulis dari perspektifnya sendiri dan sering mengambil peradaban Yunani sebagai standar untuk menilai peradaban lain.
Sekitar 444 SM, orang Athena mendirikan koloni baru bernama Thurii di Italia selatan. Tempat tersebut menjadi pertemuan internasional dan warga terkemuka dari semua bangsa beradab. Herodotus lantas tianggal di Thurii untuk sementara waktu, untuk akhirnya memutuskan kembali ke Athena pada tahun 432 SM. Herodotus meninggal di Athena antara tahun 426 hingga 415 SM







DAFTAR PUSTAKA

Anggar Kaswati, 1998, Metodelogi Sejarah dan Historiografi, Yogyakarta: Beta Offset.
Kuntowijoyo. 2005. “Pengantar Ilmu Sejarah”. Yogyakarta: Bentang Pustaka
Miriam,Budiardjo. 2008. “Dasar-Dasar Ilmu Politik”. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama


[1] Anggar Kaswati, 1998, Metodelogi Sejarah dan Historiografi, Yogyakarta: Beta Offset. Hal.45

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar